Walaupun kelihatan sepintas lucu, namun dibalik film
tersebut tersembunyi pesan pesan Kampanye Homoseks, sehingga telah menimbulkan
reaksi diberbagai dunia. Sebagian besar negara Eropa, negara Islam, Malaysia
dan bahkan Singapore telah melakukan banned atas penayangan film, cuma justru
lucunya tidak ada satupun organisasi Islam di Indonesia / MUI melakukan hal
itu. Apakah karena terlalu sibuk?? Namun sampai saat ini walaupun penayangan di
TV sudah tidak adalagi (karena sudah habis serialnya) namun kelihatannya
“Teletubbies” sudah menjadi Trade Mark terbukti dengan penggunaan maskot &
attributnya dalam berbagai produk anak-anak (baju, kue Ul-Tah, Kaos dll) masih
sering kita jumpai.
Kampanye Homoseks
Teletubbies Seorang Pendeta terkemuka di Amerika menguraikan misi homoseks di
balik tayangan lucu Teletubbies. Kontroversi meluas. Singapura melarang
penayangannya. Indonesia? Di Indonesia, tontonan tsb hampir saban hari diputar
di Indosiar dan digandrungi anak-anak. Television in the tummy of the babies
(disingkat Teletubbies, televisi di perut para bocah) adalah film yang
menampilkan empat tokoh boneka gendut (tubby) dan lucu bernama Tinky-Winky
(berwarna ungu), Dipsy (hijau), Laa-Laa (kuning), dan Po (merah). Di kepala
empat sekawan itu ada antena, yang menandakan bahwa televisi memang sudah
menjadi bagian tak terpisahkan bagi anak-anak.
Rumahnya berupa lapangan golf yang hijau dan sejuk,
disebut Teletubbyland. Di situ ada kincir angin, televisi, kelinci, pancuran
air, yang selalu disinari matahari berwajah bayi imut-imut. Film rekaan Anne
Woods dan Andrew Davenport yang pertama kali muncul di Inggris tahun 1995 itu
tak sekadar nongol di televisi. Pernik-perniknya juga membanjir di toko mainan,
toko buku, mal, pasar, sampai perempatan lampu merah. Bentuknya bisa komik,
kartu, boneka, VCD, gantungan kunci, stiker, sikat gigi, tempat nasi, handuk,
pigura, dan berbagai asesoris peralatan sekolah. Bahkan kini telah terbit
majalah Teletubbies.
Pendeknya, sang idola itu bisa menyapa anak-anak di mana
saja, kapan saja. Tak mengherankan bila anak-anak begitu akrab. Cuma, ada satu
hal yang agaknya sulit dikenali anak-anak pada umumnya, yakni jenis kelaminnya.
Sebab, kostumnya sama, aktivitasnya pun tak berbeda. Robbi Mighfari dan Balivia
Andi Permata, murid-murid sebuah TK di Surabaya, mempunyai jawaban berbeda
ketika ditanya mana dari anggota Teletubbies yang perempuan. Robbi menjawab Po.
“Sebab Po kan warnanya merah,” alasannya. Tapi menurut Balivia justru
Tinky-Winki-lah, si ungu, yang perempuan. Eki, salah seorang murid kls IV
sebuah SD di Jkt mengatakan : "Yang paling membingungkan adalah sosok
Tinky-Winky, anggota Teletubbies yang paling besar. Dia itu laki-laki, tapi
kadang tingkahnya kayak cewek. Suka mbawa tas dan bunga. Kayak orang
banci." Di Barat identitas Teletubbies memang sempat menjadi perdebatan
heboh. Bermula dari pendapat Pendeta Jerry Falwell dalam sebuah tulisan di
National Liberty Journal (Februari 1999) yang menilai Teletubbies membawa misi
homoseksualitas lewat tokoh Tinky-Winky. Alasannya? “Tinky-Winky berwarna ungu
warna kebanggaan kaum gay dan mempunyai antena segitiga terbalik di kepalanya
simbol kebanggaan gay,” kata Falwell. Majalah Time
edisi 12 Oktober 1998 juga menyatakan hal yang sama. Di situ dilaporkan bahwa
Tinky Winky yang membawa tas/dompet merah merupakan ikon kaum gay di Inggris.
Identitas tokoh-tokoh Teletubbies memang tidak jelas. Perbedaan gender hanya
digambarkan secara samar dengan suara dan pilihan warna: ungu dan hijau muda
untuk laki-laki, merah dan kuning untuk perempuan. Dan di mata Falwell, ini
dianggap sebagai pembenaran terhadap aktivitas homoseksual dan biseksual.
Kalangan rohaniwan Kristen menilai, indoktrinasi dini terhadap anak batita (di
bawah tiga tahun) lewat Teletubbies akan menyebabkan anak tak bisa membedakan
mana laki-laki mana perempuan. Lebih berbahaya lagi kalau anak sudah dicekoki
nilai: boleh saja laki-laki sekali-sekali menjadi perempuan, dan sebaliknya.
“Diluncurkannya Teletubbies adalah
khusus untuk berkomunikasi dengan balita guna memasukkan nilai homoseksualitas.
Dengan cerita berbahasa bayi, digambarkan bahwa perilaku homo dan biseks adalah
wajar,” masih kata Falwell. Menurut psikolog pendidikan Elzim Khosyiyati,
ketidakjelasan identitas ini berbahaya bagi perkembangan psikis anak-anak. “Itu
sama dengan mengaburkan esensi dari nilai pendidikan anak yang harus jelas dan
tegas,” ujar Elzim yang juga aktivis Lembaga Pendidikan Islam Dwi Matra,
Surabaya. Hal senada ditulis Berit Kjos di situs Edutainment. Menurutnya,
secara tidak disadari, anak-anak dibentuk Teletubbies untuk bisa menerima
kelainan-kelainan perilaku seksual seperti biseksual, homoseksual, dan lesbian
sebagai sesuatu yang wajar. Juga, anak-anak dibentuk untuk menjadikan televisi
sebagai dunia mereka. Pendapat
Kjos ini sama dengan pandangan umum kaum ibu di Inggris yang menilai
Teletubbies mensosialisasikan televisi kepada anak-anak dalam usia terlalu
dini. Tuduhan bahwa Teletubbies membawa misi gay segera ditentang keras oleh
Ragdoll Productions dan koleganya, produser film ini. Juru bicara untuk Itsy
Bitsy Entertainment Co., pemegang lisensi Teletubbies di AS, berdalih bahwa
dompet Tinky Winky adalah tas ajaib. “Sebenarnya yang dibawa tak menunjukkan
dia gay. Ini adalah pertunjukan anak-anak, cerita,” kata Steve Rice seperti
dikutip Associated Press (1999). Yang paling keras menentang Falwell tentu saja
kalangan gay. Dalam sebuah wawancara diCBS, Joan Garry yang mewakili Aliansi
Gay dan Lesbian, dengan nada cemooh menganggap Falwell sebagai penuduh yang
pandir. Sedangkan Michael Colton di harian New York Observer menganggap tuduhan
itu sebagai hal yang terlampau aneh dan mengerikan. Stan Yann dalam The Voice malah balik menuduh Falwell
sebagai pendeta gemuk seperti Teletubby (tubby= gemuk) yang bodoh. Namun
pendapat Falwell tidak salah bila kita cermat melihat adegan film Teletubbies.
Tingkah laku si Ungu memang seperti seorang gay. Dia suka bunga, membawa dompet
warna merah, gerak tariannya dan nada nyanyiannya. Sebuah kebiasaan orang
perempuan. Padahal keterangan resmi yang dikeluarkan sebuah produsen acara teve
anak-anak PBS kids, jenis kelamin Tinky Winky adalah male (laki-laki). Tinky
Winky juga tak segan-segan berebut rok dengan Po. Saat rebutan itu terjadi,
‘dewa’-nya Teletubbies matahari bermuka bayi lucu lalu mengatur agar yang
berebut rok itu memakainya secara bergantian. Dewa bayi itu seolah menjadi
‘tuhan’ yang menganjurkan perilaku seks menyimpang. Kalangan orang tua juga
mesti waspada dengan adegan ‘berpelukan’ yang selalu dilakukan empat sekawan
itu di akhir acara.
Menurut Elzim, pelukan di antara anggota keluarga wajar,
dan baik baik. Namun efek adegan berpelukan Teletubbies sangat didasari
kebudayaan Barat. Ibu dua anak ini sekarang kerap menjumpai kecenderungan
anak-anak di sekolah yang gandrung Teletubbies sering melakukan pelukan kepada
kawan perempuan maupun lelaki, baik berlawanan jenis maupun tidak. “Di satu
sisi memang bisa mengakrabkan, tapi di sisi lain bila perilaku ini
terus-menerus dilakukan bisa fatal akibatnya. Anak-anak akan terbiasa melakukan
pelukan dan ciuman dengan siapa saja tanpa pandang bulu.” Dampak lebih jauh,
bila yang gandrung adalah anak laki-laki, akan berbahaya. “Anak laki-laki yang
suka boneka Teletubbies akan terpengaruh seperti jiwa anak perempuan, bahkan
bisa saja kemudian hari memperlakukan dirinya seperti perempuan atau waria,”
jelas Elzim. Tidak hanya ajaran gay. Cara bicara tokoh Teletubbies yang cedal
pun banyak diprotes kalangan ibu-ibu di Inggris. Misalnya pelafalan kata ‘Halo’
menjadi ‘Ee-o’. Menurut Elzim
Khosyiyati, bahasa cadel semacam itu tidak baik bagi proses pembelajaran
kemampuan verbal anak. “Kita seharusnya mengajarkan pesan verbal secara tegas
dan jelas kepada anak,” ujarnya. Meski penuh kontroversi, Teletubbies terus
melaju tinggi. Ia telah mendatangkan keuntungan 80-an juta poundsterling bagi
Ragdoll Productions dan BBC Worldwide, produsernya. Kini 45 negara di dunia
menyiarkan serial anak-anak yang ternyata mengusung misi kaum Nabi Luth ini,
dan menjadi terpopuler di dunia. Bagi negeri yang peduli terhadap anak-anak,
Teletubbies dilarang. Di Singapura, serial Tinky-Winky dan kawan-kawan ini
tidak ditayangkan karena dianggap berpengaruh buruk terhadap perkembangan jiwa
anak. Bagaimana di Indonesia
yang mayoritas beragama Islam? Teletubbies Digugat, Menyebarkan Tradisi Gay?
Lucu amat mereka yaaa, imut-imut gemas dan empuk. Itu yang kita bayangkan
ketika melihat 4 sosok selebritis baru kesukaan anak batita. Setiap ke pasar,
pasti anak merengek minta dibelikan boneka salah satu dari 4 tokoh tsb. Entah
yang Ungu (Tinky Winky, paling besar), Hijau muda (Dipsy), Kuning (La Laa)
maupun Merah (Po, paling kecil). Saya
hafal karakter-karakter mereka sampai kepada model antena di kepala
masing-masing adalah karena diprotes anak-anak. Tinky Winky antenanya adalah
segitiga terbalik, Dipsy lurus seperti tongkat mencuat ke atas, La Laa
melingkar seperti pegas dan Po antenanya seperti bulatan cincin. Beberapa
produsen boneka ‘aspal’ (asli palsu) meniru dengan tidak tepat, sehingga ketika
saya membelikan anak saya, saya diprotes: ” Nggak cocok Ummi…., antena Po bukan
seperti tongkat, tapi Dipsy yang begitu.” Apalah artinya mainan. Kemudian
berlanjut dengan membeli VCD nya. Lucu-lucu blo’on, khas anak baru belajar
bicara. Dengan satu catatan: suara yang dipakai adalah suara dewasa yang
berlogat celat, sehingga kesan saya: koq seperti orang cacat mental?
Tetapi sekali lagi: Apalah artinya mainan. Apalagi memang
sarat fantasi ruang angkasa dengan gambaran rumah yang seperti pesawat ruang
angkasa dan segala pernak pernik khayalan termasuk matahari dengan wajah bayi
di tengah-tengahnya. Jalan ceritanya pun amat-amat sederhana: mengenalkan
berbagi mainan, mengenalkan bermain bersama, mengenalkan bahwa setiap orang
punya barang kesukaan (my favorite things)…. Begitu sederhana sampai bungsu
saya yang belum dua tahun sudah bisa menirukan kata-kata mereka yang khas :
“A-oo” sambil menutup mulut. Itu adalah ritual Teletubbies jika ada sesuatu
yang salah atau sesuatu yang kurang.Tanpa sadar gaya mereka memang mudah sekali
melekat pada batita dan tidak mustahil akan selamanya.
Sekali lagi: Apalah arti mainan? Tapi ternyata artinya
lebih dari sekedar mainan. Beberapa waktu yang lalu beredar di internet polemik
tentang Teletubbies. Ada seorang pastor menggugat sosok Tinky Winky yang
seperti banci: suara berat tapi suka sekali pada dompet. Menurut salah seorang
pengamat media anak, penggambaran sosok laki-laki (suara yang berat) dengan
memakai dompet merah seperti itu, khas dompet kaum ibu di Inggris raya, bahkan
seperti tas tangan Ratu Elizabeth pada acara-acara sosial, sangat feminin. Pada
awalnya pastor tsb-pun digugat balik oleh para pendukung Teletubbies dengan
berdalih bahwa dompet Tinky Winky adalah “magic bag” alias dompet ajaib, jadi
buat apasih diributkan? Itu kata mereka (it’s nothing important),
Dan sekali lagi: Namanya juga mainan khayal apapun boleh.
Tetapi apakah benar begitu saja? Ternyata semakin banyak yang terungkap dalam
polemik yang kemudian juga melibatkan berbagai pengamat media anak di daratan
Eropa dan Amerika. Info lain yang masuk semakin mengejutkan:
1)Warna Tinky Winky adalah warna kesayangan kaum gay
2)Antena Tinky Winky (Segitiga kebalik) adalah simbol
Gay/Maho atau Lesbian 3)Antena
Dipsy adalah simbol (maaf) kelamin laki-laki. 4) Antena Lala bersimbol (maaf) adalah cewek dan cowok yang sedang kim***.
4)Antena Po simbol perempuan
Bahkan dari jalan
cerita salah satu filmnya, jelas menunjukkan sebuah niat untuk memperkenalkan
tingkah laku para homosex, yaitu Tinky Winky berebut rok dengan La Laa dan
diperbolehkan oleh si Matahari (yang di dalam Teletubbies Land dianggap sebagai
simbol pengganti semua otoritas dunia manusia, yaitu otoritas orangtua, guru
dll termasuk Tuhan!). Jadi ada satu lagi yang diajarkan di sini: re-definisi
atas simbol-simbol otoritas! Selama ini kaum homosex sedang bergelut untuk
minta pengakuan dunia bahwa homosexual adalah sebuah kecenderungan sejak lahir
(dalam bahasa Islam disebut fitrah, sebagaimana ketertarikan laki-laki terhadap
perempuan). Mereka menggugat agar punya gereja sendiri dan bisa menikah resmi
dengan pasangannya, mereka juga menggugat agar masyarakat menerima mereka
sebagaimana menerima para cacat mental atau orang buta. Innocent!Tanpa dosa!
Sejauh ini sudah ada gereja-gereja dan pendeta-pendeta yang cukup ‘gila’ untuk
mengakui mereka kemudian mau menikahkan pasangan gay atau lesbian, tetapi tetap
saja Kepausan di Roma menolak dan mengkucilkan pendeta dan gereja yang
menyimpang. Otoritas agama seperti itu amat di tentang oleh kaum gay dan
dianggap melanggar ‘hak asasi mereka’. Kemudian inilah yang kita lihat, sebuah
usaha untuk mulai mengubah tata nilai manusia dengan mendidik batita dengan
bahasa batita. Agaknya mereka berharap bahwa dengan mengajarkan batita
“kesamaan dan persamaan” bagi mereka dan segala tingkah laku menyimpangnya,
maka 20 tahunan lagi mereka akan diakui sebagai sebuah komunitas yang sah,
sebagaimana sekarang orang Amerika menganggap sah adanya komunitas negro atau
hispanik di Amerika Serikat.Globalisasi telah membuat Teletubbies ini bukan hanya nge-top di negeri asalnya
Inggris (pertama kali diluncurkan sebagai program Unesco di stasiun TV PBS dan
kemudian BBC), tapi juga segera merambah ke seluruh dunia. Keberhasilan mereka
terletak pada bahasa komunikasi yang mereka gunakan. Para aktornya telah susah
payah diajarkan bagaimana bertingkah laku, berbicara dan bergerak seperti
Batita (toddler). Mengingat betapa sedikitnya film-film yang mendidik yang
benar-benar bisa bicara dengan batita, saya akui teknik mereka dalam
berkomunikasi dengan batita amat canggih. Meskipun
kita, sebagai orang dewasa akan merasa ganjil dengan gaya Teletubbies (seperti
kesan yang saya dapatkan yaitu seperti orang cacat mental), tetapi bagi batita
mereka betul-betul mewakili dunianya. Penuh warna, main kejar-kejaran, banyak
bunga dan binatang tak berbahaya, lapangan luas dan matahari yang bersinar
cerah. Absennya sosok penting bagi batita ternyata merupakan sebuah kesengajaan
demi melancarkan misi kaum gay. Sosok yang hilang adalah sosok orangtua.
Biasanya, bagi batita sosok ‘mama’ atau ‘papa’ amat lekat dengan dunia mereka.
Dalam Teletubbies Land, sosok itu ditiadakan (baik mama maupun papa) karena
sosok-sosok inilah yang mulai menanamkan nilai-nilai tradisi dan ideologi
kepada anak termasuk agama dan nilai sosial masyarakat sejak kecil. Inilah yang
sedang ‘dimusuhi’ kaum gay, karena biasanya orangtua-lah yang memperingatkan
anaknya jika berada dekat-dekat dengan gay, takut ketularan Aids maupun takut
terbawa perilaku mereka. Nah, dalam Teletubbies Land tak perlu ada orangtua,
anak-anak bisa hidup mandiri dan tetap gembira tanpa mama atau papa sebagai
sosok otoritas. Jika ada sesuatu yang tidak beres, ada sosok lain yang punya
tugas khusus, yaitu Nu-Nu si Vacum Cleaner, sebagai sosok pelayan yang
membereskan apa yang di kacaukan atau dibuat berantakan oleh para Teletubbies.
Jadi tak perlu mama. Satu-satunya sosok otoritas yang dibolehkan ada adalah
sosok matahari dengan wajah bayi (sebagaimana wajah para pemirsa). Jadi dalam Teletubbies Land sosok otoritasnya
berada dalam posisi yang sedikit banyak ’sejajar’ dengan para Teletubbies
maupun penonton: sama-sama bayi! Dan sang ‘matahari bayi’ tadi mengajarkan:
boleh saja boys (laki-laki, yaitu Tinky Winky) memakai rok ballet berenda
bergantian dengan La Laa dan yang lain. Jadi ‘boys’ dan ‘girls’ boleh bertukar
peran, karena dalam Teletubbies Land jenis kelamin tidak penting dan boleh
gantian! That’s it !! Ini adalah sosialisasi awal yang amat-amat halus dan
canggih dengan sasaran yang amat tepat: anak yang sangat kecil yang putih
bersih bagai kertas kosong. Bahkan ada pengamat media lain yang mensinyalir
bahwa matahari bayi yang digambarkan dalam serial ini diambil dari mitos-mitos
para penyembah berhala, Yunani, Persia dan Hindu. Seolah para pencipta
Teletubbies ingin menciptakan Dewa baru bagi manusia, yaitu dewa yang menerima
gay sebagai kewajaran dalam hidup.
No comments:
Post a Comment