Imunisasi merupakan program pemerintah yang efektif dalam mencegah kesakitan bahkan kematian pada anak. Sayangnya, cakupan imunisasi di Indonesia masih buruk. Hal ini antara lain disebabkan oleh masih banyaknya mitos yang beredar mengenai imunisasi.
1. Imunisasi tidak efektif
Mitos ini bersumber dari data 50-150 tahun yang lalu, berdasarkan penelitian 1-2 negara.Hal ini sangat berbeda dengan hasil penelitian terbaru dengan teknologi pembuatan vaksin yang sudah jauh lebihmaju.Misalnya imunisasi difteri gagal, berasal dari data di Jerman tahun 1939.Kini vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan menurunkan angka difteri hingga 95%.
2. Imunisasi tidak melindungi 100%
Perlindungan imunisasi memang tidak 100%. Anak yang sudah diimunisasi masih mungkin tertular penyakit, namun jauh lebih sedikit, sakitnya lebih ringan, dan kemungkinan cacat atau meninggal jauh berkurang daripada yang tidak di imunisasi
3. Imunisasi tidak aman, banyak efek samping
Di Indonesia, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) diberitakan secara berlebihan. Hal ini tidak sebanding dengan pemberitaan manfaat nya yang berhasil melindungi jutaan bayi dari kematian. Selain itu, KIPI belum tentu disebabkan oleh imunisasi itu sendiri. Beberapa kasus KIPI yang dipublikasi secara berlebihan oleh media massa, ternyata setelah dikaji oleh Komdadan Komnas KIPI bukan disebabkan oleh imunisasi, misalnya kejadian kematian pasca imunisasi campak yang ternyata disebabkan oleh infeksi meningitis.
4. Vaksin MMR menyebabkan autisme
Penelitian Wakefield, seorang dokter bedah pada tahun 1998 menyimpulkan vaksin MMR menyebabkan autisme. Tetapi 26 penelitian lain pada tahun 1998-2010 di seluruh dunia membuktikan tidak ada hubungan vaksin MMR dengan autisme. Setelah diaudit oleh tim ahli penelitian British Medical Journal di Inggris, diketahui bahwa Wakefield memalsukan data, sehingga pernyataan vaksin MMR menyebabkan autism sama sekali tidak sahih.
5. Vaksin dibuat dari janin babi, anjing, manusia
Isu ini berasal dari 50 tahun yang lalu, yang sangat berbeda dengan keadaan sekarang. Teknologi pembuatan vaksin sudah jauh maju dan produsen vaksin menyatakan tidak ada vaksin yang terbuat dari embrio anjing, babi, ataupun manusia. Vaksin yang beredar di Indonesia adalah produksi PT Biofarma di Bandung, yang sudah berpengalaman 120 tahun. Proses produksinya diaudit secara rutin oleh pakar WHO, karena vaksin Biofarma dibeli WHO dan diddistribusikan ke 120 negara lain, termasuk 36 negara muslim.
Oleh : Muthia Syarifa Yani
Sumber: Intisari Imunisasi, Edisi Ke-2, FKUI 2015

No comments:
Post a Comment