Tuesday, 3 November 2015

Penggunaan Kosa Kata Terkait Etika Pada Zaman Ini

            Perkembangan zaman saat ini pada kenyataannya memang sangat mempengaruhi kehidupan kita di segala aspek kehidupan. Salah satu nya aspek berbicara yaitu pemilihan kosa kata saat kita berinteraksi satu sama lain. Tanpa kita sadari, pemilihan kosa kata dalam berbicara pun mencerminkan etka kita. Loh, bagaimana bisa?
            Sebelumnya, apa itu kosa kata? Kosakata adalah himpunan kata yang dimiliki oleh seseorang atau entitas lain, atau merupakan bagian dari suatu bahasa tertentu. Kosakata seseorang didefinisikan sebagai himpunan semua kata-kata yang dimengerti oleh orang tersebut atau semua kata-kata yang kemungkinan akan digunakan oleh orang tersebut untuk menyusun kalimat baru. Kekayaan kosakata seseorang secara umum dianggap merupakan gambaran dari intelejensia atau tingkat pendidikannya. Karenanya banyak ujian standar, seperti SAT, yang memberikan pertanyaan yang menguji kosakata.
            Semakin berkembangnya zaman, kosa kata pun makin berkembang dan bertambah. Baik kosa kata resmi yang telah dibeku kan, maupun kosa kata Slank yang biasa digunakan oleh anak - anak, remaja, dan lain sebagainya.
            Seperti yang sudah dijabarkan di atas, kebanyakan orang menganggap kekayaan dan pemilihan kosa kata seseorang merupakan cerminan dari intelejensia atau tingkat pendidikan. Tetapi, tidak hanya itu. Pemilihan kosa kata pun mencerminkan etika seseorang.
            Pada masa ini, banyak kosa kata baru yang mulai muncul dan mendarah daging di dalam kehidupan kita, terutama para remaja. Baik atau buruk kah hal tersebut? Pada kenyataan nya, hal tersebut condong ke arah yang buruk.
            Beberapa kosa kata yang sudah sering kali kita dengar, bahkan sudah sangat mendarah daging di dalam kehidupan sehari - hari kita yaitu "kepo", "modus", "galau", "baper",  dan masih banyak lagi. Namun, pada artikel ini saya akan membahas 4 dampak buruk dari kosa kata tersebut.
            1. Kepo, berasal dari kata keypo yang merupakan bahasa Hokkien (bahasa yang digunakan oleh komunitas Tionghoa di Medan, Pekanbaru, dan Palembang), yang memiliki arti Ke = BertanyaPo (Apo) = Nenek-nenek
            Jadi artinya nenek-nenek yg suka bertanya. Tapi arti dari kata keypo ini  bisa diartikan juga yaitu ingin tahu atau penasaran, dan kata ini memiliki konteks yang sama sekali tidak negatif.

            Kemudian seiring berjalannya waktu, kata teresebut lama-lama menjadi kata serapan di bahasa Singlish (Singaporean English), lalu lahirlah katakaypoh. Kaypoh berarti busybody atau "to act as a busybody". Busybody sendiri artinya adalah orang yang suka campur tangan dalam urusan orang lain.
            2.  Galau. “Aduuh aku lagi ‘galau’ nih ditinggal sama pacar.” Kata-kata galau ternyata sudah menjamur di kalangan remaja Indonesia , bahkan populernya sudah melebihi kata alay, lebay dan sekelompoknya. Lalu, apa arti sebenarnya dari kata Galau tersebut?
            Banyak diantara kalian pasti tahu kata-kata galau ini dari situs jejaring sosial. Tapi ternyata, kata ini ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia memang sudah ada kata galau itu. Dalam bahasa Indonesia yang dibenarkan, galau mempunyai arti : ber – ga – lau : sibuk beramai – ramai ; ramai sekali ; kacau tidak karuan ( piikiran ), ke – ga – lau – an : sifat (keadaan hal).  
            3. Modus. Asal mula kata ini tidak diketahui sampai saat ini. Namun, "modus" yang merupakan singkatan dari "Modal Dusta" sudah menjadi kosa kata yang sering sekali kita dengar.
            4. Baper atau "Bawa Perasaan". Sama dengan kata "Modus" tidak ada sumber yang menjelaskan bagaimana asal mula kata ini tercipta. Kata "baper" biasa ditujukan kepada seseorang yang terlalu serius menanggapi suatu obrolan, candaan, dan lain nya. Ditujukan kepada mereka yang sering tersinggung oleh obrolan atau candaan teman atau sebuah forum. Bahkan kata ini pun dijadikan tolak ukur pertemanan dan meng-klaim sifat seseorang. "Males main atau bercanda sama si Dia. Orang nya Baper-an" atau "Baper-an banget sih kan cuma bercanda" dan lain sebagainya.
            Lalu, selanjutnya apa dampak buruk pengunaan ke empat kata tersebut? Tanpa kita sadari, penggunaan kata tersebut mulai menghilangkan etika dalam kehidupan kita.  Munculnya istilah "kepo", yang membuat sebagian besar dari kita menjadi kurang bisa menghargai rasa keingintahuan orang dan usaha untuk membuka obrolan. "Ah kepo doang lo" "Kepo banget sih lo". Membuat orang enggan bertanya jika ada sesuatu yang terasa janggal. Padahal sesungguhnya, mereka bertanya karena mereka peduli, dan mereka ingin membantu. Dan lama - lama, mereka pun malas bertanya dan kepedulian satu sama lain pun sedikit demi sedikit mulai menghilang.
            Munculnya istilah "galau", membuat kita menjadi kurang bisa menghargai ekspresi emosi seseorang yg  biasanya dia tuangkan pada kata atau bahasa yang dibagikan nya di jejarin sosial nya. Baik lewat kata keluhan, atau bahkan puisi yang indah. Membuat kita menjadi orang yang kurang menghargai karya orang lain. Bahkan membuat kita kadang mentertawakan kesedihan orang lain.
            Penggunaan kata modus pun sama. kita jadi kurang bisa menghargai rasa ingin membantu atau menolong dari seseorang yg biasanya lawan jenis. Ucapan seperti "Yeee modus lo bisa aja" "Ih modus banget sok sok mau bantu". Dimulai dari sekedar candaan, namun lama kelamaaan sedikit banyak penggunaan kata tersebut membuat orang terutama lawan jenis segan membantu atau bahkan untuk menawarkan bantuan.     
            Kalau sudah merasa seperti itu, sebagian besar akan mulai berkata "Ah baper amat lo gitu doang".
            Istilah "baper", mebuat kita menjadi kurang bisa menghargai perasaan orang lain yg memang terkadang bisa muncul dengan begitu mudahnya. Membuat kita kadang lupa ada batasan dalam candaan. Sampai terkadang kita membawa kekurangan fisik dalam candaan yang tidak semua orang bisa memaklumi candaan tersebut. Membuat kita lupa untuk memahami perasaan orang lain. Yang lebih parahnya, setelah kita lupa batasan akan candaan tersebut dan orang merasa tersakiti oleh candaan kita, yang muncul dan dilakukan bukan lah "Maaf" yang muncul adalah "Ih baper, ga asik lo, serius amat, bercanda kali". Penggunaan kata ini membuat kita lupa esensi dari kata Maaf.
            Apakah kita akan terus membiarkan hal yang terlihat sangat sepele ini mempengaruhi etika kita dalam bergaul? Apakah kita akan membiarkan penggunaan kata - kata seperti di atas dalam pergaulan kita terus menerus menggerus rasa saling menghargai kita ?
            Tidak ada larangan untuk menggunakan dan mengikuti perkembangan seperti hal tersebut. Namun sudah selayaknya kita membatasi dan memilah sesuai dengan situasi dan kondisi.
            Mari selamatkan norma pergaulan kita, kita muda - mudi generasi penerus bangsa yang punya norma-norma dan sudah selayaknya mempunyai etika pergaulan yang baik dan benar.

No comments:

Post a Comment

Cheers! - LAZIA DENEF