Perkembangan zaman
saat ini pada kenyataannya memang sangat mempengaruhi kehidupan kita di segala
aspek kehidupan. Salah satu nya aspek berbicara yaitu pemilihan kosa kata saat
kita berinteraksi satu sama lain. Tanpa kita sadari, pemilihan kosa kata dalam
berbicara pun mencerminkan etka kita. Loh, bagaimana bisa?
Sebelumnya, apa itu kosa kata? Kosakata adalah himpunan kata yang dimiliki oleh seseorang atau entitas lain, atau
merupakan bagian dari suatu bahasa tertentu. Kosakata seseorang didefinisikan sebagai
himpunan semua kata-kata yang dimengerti oleh orang tersebut atau semua
kata-kata yang kemungkinan akan digunakan oleh orang tersebut untuk menyusun kalimat baru. Kekayaan kosakata seseorang secara umum dianggap
merupakan gambaran dari intelejensia atau tingkat pendidikannya.
Karenanya banyak ujian standar,
seperti SAT, yang memberikan pertanyaan yang menguji kosakata.
Semakin berkembangnya zaman, kosa
kata pun makin berkembang dan bertambah. Baik kosa kata resmi yang telah dibeku
kan, maupun kosa kata Slank yang biasa digunakan oleh anak
- anak, remaja, dan lain sebagainya.
Seperti yang sudah dijabarkan di
atas, kebanyakan orang menganggap kekayaan dan pemilihan kosa kata seseorang
merupakan cerminan dari intelejensia atau tingkat pendidikan. Tetapi, tidak
hanya itu. Pemilihan kosa kata pun mencerminkan etika seseorang.
Pada masa ini, banyak kosa kata baru
yang mulai muncul dan mendarah daging di dalam kehidupan kita, terutama para
remaja. Baik atau buruk kah hal tersebut? Pada kenyataan nya, hal tersebut
condong ke arah yang buruk.
Beberapa kosa kata yang sudah sering
kali kita dengar, bahkan sudah sangat mendarah daging di dalam kehidupan sehari
- hari kita yaitu "kepo", "modus",
"galau", "baper",
dan masih banyak lagi. Namun, pada artikel ini saya akan membahas 4
dampak buruk dari kosa kata tersebut.
1. Kepo, berasal
dari kata keypo yang
merupakan bahasa Hokkien (bahasa yang digunakan oleh komunitas Tionghoa
di Medan, Pekanbaru, dan Palembang), yang memiliki arti Ke
= Bertanya, Po (Apo) = Nenek-nenek
Jadi artinya
nenek-nenek yg suka bertanya. Tapi arti dari kata keypo ini bisa
diartikan juga yaitu ingin tahu atau penasaran,
dan kata ini memiliki konteks yang sama sekali tidak negatif.
Kemudian seiring berjalannya waktu, kata teresebut lama-lama menjadi kata serapan di bahasa Singlish (Singaporean English), lalu lahirlah katakaypoh. Kaypoh berarti busybody atau "to act as a busybody". Busybody sendiri artinya adalah orang yang suka campur tangan dalam urusan orang lain.
Kemudian seiring berjalannya waktu, kata teresebut lama-lama menjadi kata serapan di bahasa Singlish (Singaporean English), lalu lahirlah katakaypoh. Kaypoh berarti busybody atau "to act as a busybody". Busybody sendiri artinya adalah orang yang suka campur tangan dalam urusan orang lain.
2. Galau. “Aduuh aku lagi ‘galau’ nih ditinggal sama pacar.” Kata-kata galau ternyata sudah
menjamur di kalangan remaja Indonesia , bahkan populernya sudah melebihi kata
alay, lebay dan sekelompoknya. Lalu, apa arti sebenarnya dari kata Galau
tersebut?
Banyak diantara kalian pasti tahu
kata-kata galau ini dari situs jejaring sosial. Tapi ternyata, kata ini ada di
Kamus Besar Bahasa Indonesia memang sudah ada kata galau itu. Dalam bahasa
Indonesia yang dibenarkan, galau mempunyai arti : ber – ga – lau : sibuk
beramai – ramai ; ramai sekali ; kacau tidak karuan ( piikiran ), ke – ga – lau
– an : sifat (keadaan hal).
3. Modus.
Asal mula kata ini tidak diketahui sampai saat ini. Namun, "modus"
yang merupakan singkatan dari "Modal Dusta" sudah menjadi kosa kata
yang sering sekali kita dengar.
4. Baper
atau "Bawa Perasaan". Sama dengan kata "Modus" tidak ada
sumber yang menjelaskan bagaimana asal mula kata ini tercipta. Kata
"baper" biasa ditujukan kepada seseorang yang terlalu serius
menanggapi suatu obrolan, candaan, dan lain nya. Ditujukan kepada mereka yang
sering tersinggung oleh obrolan atau candaan teman atau sebuah forum. Bahkan
kata ini pun dijadikan tolak ukur pertemanan dan meng-klaim sifat seseorang.
"Males main atau bercanda sama si Dia. Orang nya Baper-an" atau "Baper-an banget sih kan cuma
bercanda" dan lain sebagainya.
Lalu,
selanjutnya apa dampak buruk pengunaan ke empat kata tersebut? Tanpa kita
sadari, penggunaan kata tersebut mulai menghilangkan etika dalam kehidupan
kita. Munculnya istilah "kepo", yang membuat sebagian besar dari kita menjadi
kurang bisa menghargai rasa keingintahuan orang dan usaha untuk membuka
obrolan. "Ah kepo doang lo"
"Kepo banget sih lo". Membuat orang enggan bertanya jika ada
sesuatu yang terasa janggal. Padahal sesungguhnya, mereka bertanya karena
mereka peduli, dan mereka ingin membantu. Dan lama - lama, mereka pun malas
bertanya dan kepedulian satu sama lain pun sedikit demi sedikit mulai
menghilang.
Munculnya istilah "galau",
membuat kita menjadi kurang bisa menghargai ekspresi emosi seseorang yg biasanya dia tuangkan pada kata atau bahasa
yang dibagikan nya di jejarin sosial nya. Baik lewat kata keluhan, atau bahkan
puisi yang indah. Membuat kita menjadi orang yang kurang menghargai karya orang
lain. Bahkan membuat kita kadang mentertawakan kesedihan orang lain.
Penggunaan kata modus pun sama. kita
jadi kurang bisa menghargai rasa ingin membantu atau menolong dari seseorang yg
biasanya lawan jenis. Ucapan seperti "Yeee
modus lo bisa aja" "Ih modus banget sok sok mau bantu". Dimulai
dari sekedar candaan, namun lama kelamaaan sedikit banyak penggunaan kata
tersebut membuat orang terutama lawan jenis segan membantu atau bahkan untuk
menawarkan bantuan.
Kalau sudah merasa seperti itu,
sebagian besar akan mulai berkata "Ah
baper amat lo gitu doang".
Istilah "baper", mebuat kita menjadi kurang bisa menghargai
perasaan orang lain yg memang terkadang bisa muncul dengan begitu mudahnya.
Membuat kita kadang lupa ada batasan dalam candaan. Sampai terkadang kita
membawa kekurangan fisik dalam candaan yang tidak semua orang bisa memaklumi
candaan tersebut. Membuat kita lupa untuk memahami perasaan orang lain. Yang
lebih parahnya, setelah kita lupa batasan akan candaan tersebut dan orang merasa
tersakiti oleh candaan kita, yang muncul dan dilakukan bukan lah
"Maaf" yang muncul adalah "Ih
baper, ga asik lo, serius amat, bercanda kali". Penggunaan kata ini
membuat kita lupa esensi dari kata Maaf.
Apakah kita akan terus membiarkan
hal yang terlihat sangat sepele ini mempengaruhi etika kita dalam bergaul? Apakah
kita akan membiarkan penggunaan kata - kata seperti di atas dalam pergaulan
kita terus menerus menggerus rasa saling menghargai kita ?
Tidak ada larangan untuk menggunakan
dan mengikuti perkembangan seperti hal tersebut. Namun sudah selayaknya kita
membatasi dan memilah sesuai dengan situasi dan kondisi.
Mari selamatkan norma pergaulan
kita, kita muda - mudi generasi penerus bangsa yang punya norma-norma dan sudah
selayaknya mempunyai etika pergaulan yang baik dan benar.
No comments:
Post a Comment