BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Harapan berasal dari kata harap yaitu keinginan supaya
sesuatu terjadi atau sesuatu terjadi atau suatu yang belum terwujud.Kata orang
manusia tanpa harapan adalah manusia yang mati sebelum waktu-nya.Bisa jadi,
karena harapan adalah sesuatu yang hendak kita raih dan terpampang dimuka.
Hampir sama dengan visi walau dalam spektrum sederhana, harapan merupakan
ciptaan yang kita buat sebagai sesuatu yang hendak kita raih. Jadi hidup tanpa
harapan adalah hidup tanpa visi dan tujuan.Maka bila manusia yang hidup tanpa
harapan pada hakekatnya dia sudah mati.Harapan bukanlah sesuatu yang terucap
dimulut saja tetapi juga berangkat dari usaha.Dia adalah ke-cenderungan batin
untuk membuat sebuah rencana aksi, peristiwa, atau sesuatu menjadi lebih
bagus.Sederhananya, harapan membuat kita berpikir untuk melakukan sesuatu yang
lebih baik untuk meraih sesuatu yang lebih baik.
Harapan dan rasa optimis juga memberikan kita kekuatan untuk melawan setiap hambatan.Seolah kita selalu mendapatkan jalam keluar untuk setiap masalah.Seolah kita punya kekuatan yang lebih untuk siap menghadapi resiko.Ini kita sebut sebagai perlawanan. Orang yang hidup tanpa optimisme dan cenderung pasrah pada realita maka dia cenderung untuk bersikap pasif, Oleh karena itu dalam makalah ini kita dapat mengetahui lebih dalam tentang manusia dan harapan
Harapan dan rasa optimis juga memberikan kita kekuatan untuk melawan setiap hambatan.Seolah kita selalu mendapatkan jalam keluar untuk setiap masalah.Seolah kita punya kekuatan yang lebih untuk siap menghadapi resiko.Ini kita sebut sebagai perlawanan. Orang yang hidup tanpa optimisme dan cenderung pasrah pada realita maka dia cenderung untuk bersikap pasif, Oleh karena itu dalam makalah ini kita dapat mengetahui lebih dalam tentang manusia dan harapan
B. Pembatasan Masalah
Agar
tidak terjadi kesalah pahaman maka pembahasan masalah, kami membatasi dan
menetapkan objeknya sebagai berikut : definisi harapan sebagai fenomena
nasional, kepercayaan, manusia dan harapan, nilai-nilai budaya sebagai tolak
ukur dan harapan terakhir.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan
pembatasan masalah diatas, kami merangkum beberapa rumusan masalah yang
diangkat antara lain :
•
Pengertian dan makna harapan
•
Harapan sebagai fenomena nasional
•
Kepercayaan
•
Manusia dan Harapan
•
Nilai – nilai budaya sebagai tolak ukur
•
Harapan terakhir
D. Tujuan Penulisan
Penulisan
makalah mengenai manusia dan tanggung jawab ini mempunyai tujuan antara lain:
• Mengetahui dan memahami makna harapan
• Mengetahui dan memahami makna harapan
•
Mengetahui dan memahami makna harapan sebagai fenomena nasional
•
Mengetahui dan memahami makna kepercayaan
•
Mengetahui dan memahami makna manusia dan harapan
•
Memahami makna nilai-nilai budaya sebagai tolak ukur
•
Memahami harapan terakhir
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN HARAPAN
1.1.
Pengertian Harapan
Harapan berasal dari kata harap yaitu keinginan supaya
sesuatu terjadi atau sesuatu terjadi atau sesuatu yang belum terwujud.Kata
orang manusia tanpa harapan adalah manusia yang mati sebelum waktu-nya.Bisa
jadi, karena harapan adalah sesuatu yang hendak kita raih dan terpampang
dimuka. Hampir sama dengan visi walau dalam spektrum sederhana, harapan
merupakan cip-taan yang kita buat sebagai sesuatu yang hendak kita raih. Jadi
hidup tanpa harapan adalah hidup tanpa visi dan tujuan.Maka bila manusia yang
hidup tanpa harapan pada hakekatnya dia sudah mati.Harapan bukanlah sesuatu
yang terucap dimulut saja tetapi juga berangkat dari usaha.Dia adalah
ke-cenderungan batin untuk membuat sebuah rencana aksi, peristiwa, atau sesuatu
menjadi lebih bagus.Sederhananya, harapan membuat kita berpikir untuk melakukan
sesuatu yang lebih baik untuk meraih sesuatu yang lebih baik.
Harapan dan rasa optimis juga memberikan kita kekuatan untuk melawan setiap hambatan.Seolah kita selalu mendapatkan jalam keluar untuk setiap masalah.Seolah kita punya kekuatan yang lebih untuk siap menghadapi resiko.Ini kita sebut sebagai perlawanan.Orang yang hidup tanpa optimisme dan cenderung pasrah pada realita maka dia cenderung untuk bersikap pasif.
Harapan dan rasa optimis juga memberikan kita kekuatan untuk melawan setiap hambatan.Seolah kita selalu mendapatkan jalam keluar untuk setiap masalah.Seolah kita punya kekuatan yang lebih untuk siap menghadapi resiko.Ini kita sebut sebagai perlawanan.Orang yang hidup tanpa optimisme dan cenderung pasrah pada realita maka dia cenderung untuk bersikap pasif.
1.2. Apa Sebab Manusia Mempunyai Harapan
Menurut
kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia langusung
disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau
anggota masyarakat lainnya. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari pergaulan
hidup. Ditengah - tengah manusia lain itulah, seseorang dapat hidup dan
berkembang balk fisik/jasmani maupun mental/ spiritualnya. Ada dua hal yabg
mendorong orang hidup bergaul dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat dan
dorongan kebutuhan hidup.
1. Dorongan Kodrat
Kodrat adalah sifat, keadaan atau pembawaan alamiah yang sudah terwujud dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan.
Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau harapan, misalnya menangis, tertawa, sedih, dan bahagia.
Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawaan dan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat, dan hidup bersama dengan manusia lain.
Dengan kodrat inilah, manusia memiliki harapan.
2. Dorongan Kebutuhan Hidup
Manusia memiliki kebutuhan hidup, umumnya adalah kebutuhan jasmani dan rohani. Untuk memenuhi kebutuhan itu manusia harus bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan karena kemampuan manusia sangat terbatas baik kemampuan fisik maupun kemampuan berpikirnya.
Kodrat adalah sifat, keadaan atau pembawaan alamiah yang sudah terwujud dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan.
Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau harapan, misalnya menangis, tertawa, sedih, dan bahagia.
Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawaan dan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat, dan hidup bersama dengan manusia lain.
Dengan kodrat inilah, manusia memiliki harapan.
2. Dorongan Kebutuhan Hidup
Manusia memiliki kebutuhan hidup, umumnya adalah kebutuhan jasmani dan rohani. Untuk memenuhi kebutuhan itu manusia harus bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan karena kemampuan manusia sangat terbatas baik kemampuan fisik maupun kemampuan berpikirnya.
Menurut Abraham Maslowkebutuhan
hidup manusia dibagi menjadi 5, yaitu;
1.
Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup
2.
Harapan untuk memperoleh keamanan
3.
Hak untuk mencintai dan dicintai
4.
Harapan diterima lingkungan
5.
Harapan memperoleh perwujudan cita-cita
Dalam
mencukupi kebutuhan kodrat maupun kebutuhan, manusia membutuhkan orang lain.
1.3. Pengertian Doa
Menurut bahasa do'a berasal dari kata "da'a" artinya memanggil. Sedangkan menurut istilah syara' do'a berarti "Memohon sesuatu yang bermanfaat dan memohon terbebas atau tercegah dari sesuatu yang memudharatkan.
1. Adapun lafadz do'a yang ada dalam al Qur'an bisa bermakna sebagai berikut:
Ibadah, seperti firman Allah: Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat demikian make, kamu termasuk orang-orang yang zhalim. (Yunus: 106).
2. Perkataan atau Keluhan. Seperti pada firman Allah: Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi. (al Anbiya: 15).
3. Panggilan atau seruan. Allah berfirman: Maka kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling ke belakang. (ar- Rum: 52)
4. Meminta pertolongan. Allah berfirman: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang at Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad) buatlah satu surat yang semisal at Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (al Baqarah: 23).
5. Permohonan. Seperti firman Allah: Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjagapenjaga jahannam: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari." (al Mukmin: 49).
Menurut bahasa do'a berasal dari kata "da'a" artinya memanggil. Sedangkan menurut istilah syara' do'a berarti "Memohon sesuatu yang bermanfaat dan memohon terbebas atau tercegah dari sesuatu yang memudharatkan.
1. Adapun lafadz do'a yang ada dalam al Qur'an bisa bermakna sebagai berikut:
Ibadah, seperti firman Allah: Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat demikian make, kamu termasuk orang-orang yang zhalim. (Yunus: 106).
2. Perkataan atau Keluhan. Seperti pada firman Allah: Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi. (al Anbiya: 15).
3. Panggilan atau seruan. Allah berfirman: Maka kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling ke belakang. (ar- Rum: 52)
4. Meminta pertolongan. Allah berfirman: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang at Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad) buatlah satu surat yang semisal at Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (al Baqarah: 23).
5. Permohonan. Seperti firman Allah: Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjagapenjaga jahannam: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari." (al Mukmin: 49).
B. HARAPAN SEBAGAI FENOMENA
NASIONAL
Artinya harapan adalah sesuatu yang wajar berkembang
dalam diri manusia dimanapun berada. Mengutip pandangan dan teori A.F.C.
Wallace dalam bukunya culture and personality, menegaskan bahwa kebutuhan
merupakan salah satu isi pokok dari unsur kepribadian yang merupakan sasaran
dari kehendak, harapan, keinginan, serta emosi seseorang. Kebutuhan individu
dapat dapat dijabarkan lebih lanjut menjadi:
a. Kebutuhan
Organik Individu :
1. Kebutuhan
individu bernilai positif.
2. Kebutuhan
individu bernilai negative
b. Kebutuhan
psikologi individu :
1. Kebutuhan
psikologi individu bersifat positif
C. KEPERCAYAAN
Kepercayaan berasal dari kata percaya,artinya mengakui
atau meyakini akan sesuatu hal yang benar. Kepercayaan adalah suatu hal yang
berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran.
Menurut pandangan bidang logika kebenaran memiliki
pengertian yang tidak jauh berbeda yaitu menyesuaikan kesamaan pemahaman antara
keputusan dengan objek yang diketahui benar-benar terbukti (kebenaran
logis).Kebenaran logis disebut juga kebenaran objektif dan kebenaran etis juga
disebut kebenaran subjektif. Jika tidak ada kesamaan pemahaman antara keputusan
dan objeknya yang diketahui, maka terdapat dua kemungkinan, yaitu:
1. Orang
yang mengutarakan putusan keliru.
2. Orang
yang mengutarakan putusan sengaja mengutarakan tidak sesuai dengan realita yang
diketahuinya.
Dr.
Yuyun Suriasumantri dalam bukunya filsafat ilmu mengemukakan tiga teori
tentang kebenaran :
1.
teori koherensi; suatu
pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten
dengan pernyataan – pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Misalnya setiap
manusia pasti mati. Paul manusia. Paul pasti mati.
2.
teori korespondensi’
teori yang menyatakan bahwa suatu pernyataan benar bila materi pengetahuan yang
dikandung penyataan itu berkorespondesni (berhubungan dengan) obyek yagn dituju
oleh pernyataan tersebut.
3.
teori pragmatis’
Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan criteria apakah pernyataan tersebut
bersifat fungsional dalam kehidupan praktis
Dasar
kepercayaan ialah kebenaran dan sumber kebenaran adalah manusia, oleh karena
itu keepercayaan terdiri atas:
1. Kepercayaan
pada diri sendiri, yaitu kepercayaan yang harus ditanamkan pada setiap
pribadi manusia. hakekatnya kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Kepercayaan
pada orang lain, yaitu percaya pada kata hatinya yang berbentuk pada
perbuatan kebenaran kepada orang lain. Misalnya pada saudara, teman, orang tua
atau siapa saja.
3. Kepercayaan
pada pemerintah, Menurut buku etika, Filsafat Tingkah karya Prof. I.R.
poedjawiyatnya. Negara itu berasal dari Tuhan. Setidaknya kedaulatan tertinggi
ada pada Tuhan. Namaun pada pandsangan demokratis mengatakan bahawa kedaulatan
adalah milik rakyat. Dan penjelmaan rakyat adalah negar melelui pemerintahan
khusus.
4. Kepercayaan
kepada Tuhan, yaitu meyakini bahwa manusia diciptakan oleh tuhan dan
manusia harus bertakwa pada tuhannya. Salah satu cara bertakwa adalah
mengukuhkan imannya bahwa tuhan merupakan zat yang merupakan kebenaran mutlak
D. MANUSIA DAN HARAPAN
Harapan itu bersifat manusiawi dan berhak dimiliki semua
orang.Manusia tidak bisa terlepas dari harapan.Harapan adalah bagian hidup dari
manusia. Manusia yang tidak memiliki harapan sama saja seperti orang yang mati.
Harapan adalah awal menuju tujuan hidup manusia yang bermacam-macam.
Jika
manusia mengingat bahwa kehidupan tidak hanya di dunia saja namun di akhirat
juga, maka sudah selayaknya “Harapan” manusia untuk hidup berikutnya ditempat
tersebut juga akan mendapatkan kebahagiaan. Dengan begitu manusia dapat
menyelaraskan kehidupan antara dunia dan akhirat dan selalu berharap bahwa
“hari esok lebih baik dari pada hari ini dan menjadikan masa lalu sebagai
cermin untuk meraih masa depan yang lebih baik”, namun kita harus sadar bahwa harapan
tidak selamanya menjadi kenyataan.
Dalam
menjalani hidup manusia pastinya mempunyai harapan, dan harapan setiap manusia
tentunya berbeda-beda. Dan harapan tersebut umumnya menyangkut masa depan,
karena belum terwujud. Setiap harapan yang diinginkan seseorang pastinya
menginginkan hal yang lebih baik, tidak mungkin seseorang mempunyai harapan
yang buruk, walaupun ada tetapi tidak semua orang menginginkan hal seperti itu.
Manusia
dan harapan sangat berhubungan dengan erat, bahkan tidak mugkin dapat dipisahkan
lagi. Harapan setiap manusia berbeda-beda, hal tersebut tergantung pada
factor-faktor tertentu, antara lain adalah pengetahuan, pengalaman, lingkungan
hidup dan kemampuan masing-masing. Apabila seseorang mempunyai suatu harapan,
pastinya ia akan mewujudkan harapan tersebut agar harapan yang ia inginkan
dapat tercapai dengan segala upaya termasuk usaha dan doa. Karena usaha dan doa
merupakan penunjang utama terkabulnya suatu harapan.
Dengan
harapan akan membuat hidup kita lebih indah, karena harapan lebih mengarah ke
masa depan, tentunya dengan harapan yang lebih baik. Apa jadinya seseorang bila
tidak mempunyai suatu harapan dalam hidupnya??? Pastinya hidupnya akan terasa
mati, tidak berwarna, dan hanya biasa-biasa saja. Suatu harapan pasti terdapat
dalam diri manusia, tapi entah kapan harapan tersebut akan terwujud. Semua
tergantung pada diri kita sendiri, karena hanya kita yang dapat membuat
perubahan dalam hidup. Semoga harapan yang kita inginkan dapat tercapai,
tentunya didukung dengan usaha yang keras dan doa sesuai dengan kepercayaan,
karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya suatu harapan. GOD BLESS YOU!
E. HARAPAN TERAKHIR
Menurut Aristoteles,
kehidupan ini berasal dari generatio spontanea, artinya kehidupan itu terjadi
dengan sendirinya. Aristoteles pada zamannya belum sampai pada pemikiran bahwa
segala sesuatu yang ada di bumi dan jagad raya ini berasal dari Tuhan Yang Maha
Kuasa.
Manusia
memiliki kebutuhan jasmani, diperoleh dengan mencukupi kebutuhan hidup yang
bersifat kebendaan, sedangkan kebutuhan rohaninya dicukupi dengan hal-hal yang
sifatnya rohani, khususnya keagamaan.Ada manusia yang dalam pandangan hidupnya
hanya ingin memuaskan kehidupan duniawi sehingga manusia tersebut hanyalah
memuaskan diri pada semua kenikmatan jasmaninya.Ada pula manusia yang pandangan
hidupnya justru sebaliknya.Agama Islam mengajarkan manusia tidak hanya mengejar
kebutuhan yang bersifat duniawi saja, tetapi juga bersifat ukhrowi (kehidupan
akhirat).
Semakin
tinggi kesadaran kehidupan beragama seseorang, maka semakin yakinlah mereka,
bahwa semua manusia akhirnya akan meninggal dan kembali kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa. Dunia yang serba gemerlap akan ditinggalkan dan akan hidup di dalam
akhirat yang abadi.Bagi orang atheis dengan pandangan matrealistis, mereka
tidak percaya akan adanya Tuhan. Bagi mereka mati bukan karena rohnya kembali
kepada Tuhan, tetapi karena jantungnya berhenti berdenyut. Sebaliknya, bagi
yang percaya pada Tuhan, meyakini bahwa seseorang yang meniggal akan kembali
kepada asalnya, yaitu Tuhan.
Dengan
pengetahuan dan pengertian agama tentang kehidupan abadi setelah orang
meninggal, manusia menjalankan ibadahnya.Ia menjalankan perintah Tuhan melalui
agama, dan menjauhi larangan-Nya. Manusia menjalankan hal itu karena sadar
sebagai makhluk kecil yang tidak akan berdaya terhadap kekuasaan Tuhan.
Kehidupan dunia yang sifatnya sementara dikalahkan demi kehidupan abadi di
akhirat karena tahu bagaimana beratnya siksaan di neraka dan bagaimana
bahagianya di surga.Kebaikan di surga yang abadi inilah yang merupakan harapan
terkhir manusia.
Tidak
dapat dipungkiri bahwa manusia terkadang tidak pernah puas dengan apa yang
mereka sudah dapatkan, mereka masih mengharapkan sesuatu yang lebih. Dalam hati
mereka tidak merasakan cukup walau tuhan sudah memeberi, manusia selalu
mempunyai harapan untuk masa depannya. Mereka berfikir masa depan yang harus
didapatkan adalah masa depan yang cerah. Setiap hari harapan – harapan tersebut
selalu diungkapkan sebelum menjalani aktifitas namun terkadang mereka melupakan
tuhan yang dapat mengabulkan semua harapan yang mereka minta. Sangat
disayangkan apabila seseorang sudah sukses karena harapan yang diimpikannya
terkabul tetapi mereka melupakan siapa yang telah mengabulkan harapannya itu.
Untuk itu kita dapat introspeksi diri bagaimana kita bisa terlahir didunia ini.
Kita juga dapat kembali mengenal budaya – budaya milik kita sendiri. Manusia
mempunyai agama yang berbeda – beda dan setiap manusia harus percaya kepada
agama yang telah dianutnya agar mereka yakin bahwa segala harapan yang
diinginkan dapat terkabul dan termasuk manusia yang menghargai budayanya,
Harapan
/ biasa dikata banyak orang HOPE (in english) biar gaul kali ya orang bilang
gitu hehehe, harapan itu sama aja dengan impian, harapan bisa terjadi bisa juga
tidak terjadi, tergantung bagaimana proses berpikir manusianya sendiri untuk
berusaha mewujudkan sebuah harapannya. Manusia diberi akal budi untuk berpikir
bagaimana dia bisa melanjutkan kehidupannya dengan lebih baik di masa masa yang
akan datang maka munculah harapan harapan baru yang harus diusahakan agar bisa
terwujud, jangan hanya berdoa tetapi juga harus berusaha
F. NILAI – NILAI BUDAYA
SEBAGAI TOLAK UKUR HARAPAN
Dalam hasil budaya yang berupa sastra, dapat dihayati adanya kandungan nilai budaya yang dibawa penulisnya sebagai gagasan utama. Dalam sastra jawa misalnya antara lain terdapat nilai budaya meliputi:
a. nilai kejuangan dan semangat pengorbanan,
yaitu nilai perjuangan sebagai tolak ukur dan diharapkan dimiliki masyarakat, seperti kesetiaan, kesungguhan, kedisiplinan,dll
b. nilai kerumahtanggaan
yaitu nilai yang diharapkan berkembang dalam etiap keluarga.
c. Nilai kemandirian kaum wanita
Yaitu, Nilai yang diharapkan dapat dimiliki setiap wanita.
Dalam hasil budaya yang berupa sastra, dapat dihayati adanya kandungan nilai budaya yang dibawa penulisnya sebagai gagasan utama. Dalam sastra jawa misalnya antara lain terdapat nilai budaya meliputi:
a. nilai kejuangan dan semangat pengorbanan,
yaitu nilai perjuangan sebagai tolak ukur dan diharapkan dimiliki masyarakat, seperti kesetiaan, kesungguhan, kedisiplinan,dll
b. nilai kerumahtanggaan
yaitu nilai yang diharapkan berkembang dalam etiap keluarga.
c. Nilai kemandirian kaum wanita
Yaitu, Nilai yang diharapkan dapat dimiliki setiap wanita.
Dalam
hidup di dunia, manusia dihadapkan pada persoalan yang beragam baik itu masalah
positif maupun negative. Untuk menghadapi persoalan hidup tersebut manusia
perlu belajar dari manusia lainnya baik formal maupun informal agar memiliki
kehidupan yang sejahtera menurut Aristoteles, hidup dan kehidupan itu berasal
dari generation spontanea, yang berarti kehidupan itu terjadi dengan
sendirinya. Dengan pengetahuan serta pengertian agama tentang adanya kehidupan
abadi di akhirat, manusia menjalankan ibadahnya. Ia akan menjalankan perintah
Tuhan melalui agama, serta menjauhkan diri dari larangan yang diberikan-Nya.
Manusia menjalankan hal itu karena sadar sebagai makhluk yang tidak berdaya di
hadapan Tuhan
DAFTAR PUSTAKA
http://sahabat-si-pepebbi.blogspot.com/2012/05/makalah-tentang-manusia-dan-harapan.htm
http://situseni.com/catatan/soliloqui/565-arti-sebuah-harapanl
http://mariariberu.blogspot.com/2013/01/nilai-nilai-budaya-sebagai-tolak-ukur.html
http://asiknya-berbagi.blogspot.com/2011/03/pengertian-harapan.html
No comments:
Post a Comment